Bismillahirohmanirrohim…

Kali ini www.perawatpintar.web.id akan sedikit mengulas mengenai video Nurse vs DPR yang saat ini ada di Youtube.com dan cukup sangat menggugat harkat perawat. Kali ini sedikit review dengan sedikit masukan dari saya semoga bermanfaat. Saya tunggu komennya dibawah :2thumbup

Ada beberapa dialoga dimana saya tidak bisa mendengar dengan jelas walau sudah saya ulang-ulang jadi jika ada kesalahan dialog mohon dimaafkan.

00:05

“Kalau selama ini ingin statusnya kayak dokter? Kenapa tidak masuk kedokteran?”

Dari sini terlihat jelas disarankan bahwa semua perawat jika ingin diakui setara dengan dokter harus  masuk kedokteran.

 00:34

“Tidak menentukan diagnosa, tidak menentukan pengobatan, tidak menentukan terapi, dengerin dong… mau denger g?”

Disini ada satu kesalahan bahwa perawat tidak menentukan diagnosa, tidak menentukan pengobatan, tidak menentukan terapi.

Jelas sekali bahwa kita tahu bahwa keperawatan mempunyai diagnosa keperawatan entah itu NANDA, Doengoes ataupun Carpenito namun jelas perawat mempunyai diagnosa keperawatan, perawat juga mempunyai andil dalam pengobatan dan berhak memilih mana yang “good or harm” bagi pasien sesuai dengan ilmu yang dimiliki sehingga perawat berhak memberi masukan atas terapi yang diberikan dokter bahkan berhak menolak jika dianggap membahayakan pasien.

 

 00:55

“Kamu tuh perawat hanya digunakan menurut instruksi dari dokter, tu perawat yang mampu, perawat yang mampu adalah perawat yang bisa melaksanakan instruksi dari dokter, ya kan?”

Disinilah terlihat bahwa perawat masih dipandang sebagai vokasional bukan profesional, statement ibu tersebut hanya dilandasi oleh ilmu yang lama karena beliau mengajar di Akper. Jadi disini adalah sebuah kesalahan besar jika dianggap kita hanya digunakan jika ada instruksi dokter, bukankah kita punya banyak intervensi keperawatan, lihat saja buku Nursing Intervention Classification (NIC) betapa banyak yang bisa kita lakukan dengan mandiri tanpa instruksi dokter. Apakah seperti mengganti linen, mencegah infeksi, rawat luka juga harus menunggu instruksi dokter?

 01:10

“Kalian tidak bisa menentukan terapi dan pengobatan”

Oke disini benar, tetapi jika keadaan tidak mengancam nyawa. Jika sudah ada hal yang mengancam nyawa, perawat bisa memberikan terapi dan pengobatan untuk life saving. Namun, jika tidak ada UU yang melindungi lalu kita melakukan dengan dasar hukum apa?

01:13

“Dokter memerintahkan, nih dokter perintahnya, saya tulis, saya catet, saya kerjakan”

Disinilah terlihat bahwa perawat masih dipandang sebagai vokasional bukan profesional, Ya ini juga sebuah kenyataan yang kita lihat di perawat Indonesia. Saat kita (perawat) diajak diskusi dengan rekan sejawat kadang tidak bisa mengimbangi karena mungkin sudah lama ilmunya (kurang update ilmu, tidak ada sarana dari institusi tempat bekerja), tidak mau belajar(karena malas), tidak sempat belajar (karena julmlah pasien yang banyak banget) dan juga alasan lain yang mungkin tidak bisa kita hitung jumlahnya.

Jadi, disinilah perawat dituntut untuk tahu minimal anatomi-fisiologi dasar, farmakologi dasar, serta ilmu-ilmu dasar pemeriksaan fisik untuk mengimbangi diskusi dengan dokter.

Ada sebuah selentingan dari rekan sejawat saat mengisi di PSIK FK UGM, beliau adalah seorang dokter dan mengatakan,

”Saya di luar negeri senang sekali karena perawat bisa diajak diskusi dan mau mengemukakan pendapat sehingga membuka wawasan saya, saat saya terapkan di Indonesia rasanya susah sekali, dan saya juga heran kenapa yang pinter-pinter hanya ada di pendidikan dan ilmunya tidak sampai ke pelayanan?”

Silahkan ada yang bisa menjawab?

01:29

“Nanti Gigi minta Undang-undang, Nanti Mata minta Undang-undang, lalu siapa yang bikin?”

Dari sini terlihat bahwa ibu yang ini tidak memahami bahwa PERDAMI, PDGI, dan lain-lainnya masih dalam ranah kedokteran. Sedangkan keperawatan dalam ranah yang berbeda. Lalu siapa yang bikin? Tentu saja yang membuat adalah Perawat terutama di organisasi profesi (PPNI-red) dan DPR hanya tinggal membahas sedikit saja lalu mengesahkan untuk dilaksanakan profesi yang bersangkutan dalam hal ini perawat. Apakah DPR tahu kondisi perawat? Tentu tidak kan yang tahu tentu saja organisasi profesi keperawatan.

PR bagi kita, bagaimana kontribusi kita kepada organisasi profesi kita? Atau kita hanya menuntut tapi kita tidak mengimbangi dengan melaksanakan hak? Atau malah merasa tidak memiliki organisasi profesi?

02:13

“Lalu tugas dan fungsi anda ada dimana? Tugas dan fungsi anda kan melaksanakan instruksi dokter”

Lagi-lagi disinilah terlihat bahwa perawat masih dipandang sebagai vokasional bukan profesional. Lalu apa makna kolaborasi? Apa makna mitra? Jadi dari sinilah perawat dituntut mulai sekarang harus mulai terbiasa diskusi, terbiasa memakai internet untuk mengupdate ilmu agar benar-benar diakui sebagai sebuah profesi dan bukan vokasi. Bukankah profesionalitas itu salah satunya long life learning (belajar sepanjang hayat). Jika perawat hanya berbicara tapi tidak bertindak maka akan dianggap sebagai sebuah pepesan kosong (tidak sembodo bahasa jawanya)

Jadi ini satu lagi PR kita, membiasakan diri belajar, membiasakan diri berdiskusi, jika ingin mengubah kenapa tidak dari diri kita sendiri saja (termasuk saya tentunya-red)

02:31

“Amerika sudah punya Undang-undang Keperawatan? Tidak ada tuh”

Disinilah kita diskak mat oleh anggota DPR karena kita tidak membawa data. Saya salut dengan mahasiswa yang mau berjuang dan mengatakan itu walau belum ada data yang mendukung. Intinya begini kalau mau debat ke DPR bawa data, tunjukkan. Kadang DPR yang korupsi, sudah ada bukti masih bisa mangkir dan tidak mengakui apalagi, kalau tidak ada data.

Mungkin ini bisa jadi referensi dan membuka mata ibu tersebut. Dia ke Amerika ngapain? Piknik? Di google aja jelas ada Nurse Act di Kanada cek saja di http://www.rn.ca.gov/ dimana diatur Nurse Practice Act. Kemana aja bu? :hammer

04:00

“Saya kemarin ketemu dengan perawat-perawat,saya punya S3, saya punya S3, jadi statusnya sama haah… menghela nafas pesimis”

Nah, ini dia yang mungkin g jelas dimaksud sama itu seperti apa, sama bukan dalam arti kewenangan namun mempunyai kesamaan dalam hak berdasar dengan pendidikan, berdasar dengan definisi kerja yang sudah diatur organisasi profesi. Sama bukan berarti terus sama dalam kewenangan. Ada yang punya pendapat lain?

05:08

“Apasih anda bisa di pelosok tanpa dokter? Anda g ngerti, anda jangan bunuh diri”

Kalau data ini saya kurang tahu, mungkin ada yang bisa membantu? Karena saya tidak di pelosok sehingga kurang tahu. Memang setahu saya setiap daerah ada dokter namun 1 dan jaraknya jauh dari penduduk. Jadi mungkin ada yang bisa membantu? Atau jika ada yang salah bisa membantu menerangkan? Apakah memang tidak ada, ada tapi jauh atau ada tapi terbatas jam praktek saja? Saya kurang kompeten dalam hal ini.

07:30

“Ketika dokter tidak ada perawat apakah masalah akan selesai?”

SKAK MAT!! Disini semua pernyataan yang dilontarkan ibu tadi seolah jadi tidak berarti. Ibu tadi menyarankan kalau memang mau setara ya masuk kedokteran saja, pas ditanya, si Ibu bingung g menjawab malah maen HP. :hammer

07:52

“Indonesia kekurangan dokter lalu yang ngisi kekurangan dokter adalah perawat gitu?”

Disinilah ketidakpahaman anggota DPR tentang kondisi rakyatnya katanya wakil rakyat? Jadi gini pak, di beberapa daerah ada dokter namun terbatas pak. Kalau tidak percaya lihat ke pelosok Indonesia yang tanpa protokoler biar tahu kondisi asli rakyatnya. Yang dimaksud adalah perawat perlu perlindungan hukum untuk melakukan tindakan medis bagi keadaan yang mengancam nyawa. Jadi perawat tidak mengganti tugas dokter pak, perawat menolong pasien sesuai sumpah saat lulus dan butir pertama,

“Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan kemanusiaan”

08:50

“Definisi setara itu apa?”

Nah disini anggota DPR mengatakan tidak bisa perawat itu setara. Namun bapak yang ditengah juga mengatakan beda pengertian setara dan sama. Oke, silahkan ada yang bisa membantu tentang definisi ini? Karena memang ada sedikit dilematis yaitu adanya jenjang pendidikan yang berbeda antara dokter dan perawat di Indonesia. Itu masih jadi PR besar kita semua.

Setelah ini kamera berputar-putar tidak fokus dan para mahasiswa keluar ruangan. Namun di menit 11:08 ada satu dialog yang cukup menarik:

“Bawa ke Fraksi saja.. Bikin surat ke Fraksi Demokrat”

Jadi dari sini bisa diambil beberapa kesimpulan bahwa:

  1. Profesi Perawat belum dihargai sepenuhnya oleh Fraksi Demokrat.
  2. Perawat masih belum dianggap sebuah profesi hanya sebatas vokasional saja.
  3. Fraksi Demokrat tidak menyetujui UU Keperawatan dianggap tidak perlu dibuat sendiri.
  4. Fraksi Demokrat mengharap bagi yang kecewa jadi perawat silahkan masuk kedokteran. :cd

PR bagi Perawat:

  1. Berjuang dan Bergerak bersama untuk Indonesia.
  2. Mulai membenahi dan bersama membangun organisasi profesi agar lebih kuat.
  3. Mulai membiasakan diri untuk berubah lebih baik.
  4. Mulai dari DIRI SENDIRI
  5. Mulai dari HAL KECIL
  6. Mulai dari SEKARANG

Ini video aslinya:

Ini ada video musik yang semoga bisa menjadi penyemangat untuk kita bersama:

SAATNYA KITA BERGERAK DAN BERAKSI PERAWAT INDONESIA, HIDUP PERAWAT INDONESIA!!!

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

85 Responses to “Nurse Vs DPR: Sebuah Ironi”

  • tes aprila says:

    thanks,,,udah share,,hamdulillha dg internet kita bisa berkomunikasi satu sama lain,,sangat bermanfaat sekali,,walau saya jauh kerja perawat d saudi arabia,,sekarang udah 7 taun,,kangen juga diskusi masalah profesi kita,,”perawat”,,menurut pendapat saya,,memang kita hrs meningkat kan kwalitas n kinerja,sebagai perawat kita hrs punya pengetahuan dan keterampilan yang bagus,,bagi yang blum bisa coba berusaha tingkat kan diri lagi untuk lebih maju.menurut perkataan anggota dewan d atas,,mang kurang sangat pd tempat nya,,disitu terlihat mreka memposisikan didri mereka bukan sebagai anggota dewan,,tapi personalisme,,keliatan d situ mrk memang kurang pengetahuan masalah perawat dan tidak mau tahu,,d mata mrk perawat is nothing,,Dr,,is every thing,,that is wrong,,saya bekerja d emergency departement,,kita bekerja dgn berbagai macam sukubangsa,,respect each other,,kita bener2 bekerjasama dgn dokter bukan d perintah dokter demi save life the patiens,,kita komunikasi n melakukan tindakan,,seperti layak nya patner kerja,,bukan atasan n bawahan,,artinya dr n nurse adalah satu kesatuan yang nggak bisa di pisah kan satu sama lain,itu kan slalu berdampingan,,mau k belahan dunia mana ngak bisa jalan masing2,,jadi berarti kita bisa sejajar dg dokter dan menjalan kan profesi masing masing sesuai dgn keahlian kita masing2,,bukan nunggu d PERINTAH!,,,dan mang kalo obat adalah wewenang dokter tuk kasi resep,itu lah guna nya kolaborasi ato kerjasama dg dokter,, semoga untuk ke depan perawat indonesia more disiplin n luruskan niat kita adalah penolong pasien,,ikhlas kan niat karna Allah SWT,,semoga UU perawat bisa terwujud kan,,amin,,

  • JOE says:

    Melalui forum ini Mari kita bangkitkan nasionallisme perawat indonesia, jadikanlah kejadian ini sbg penyemangat melakukan hal yg terbaik demi kemajuan profesi.Bergabunglah bersama organisasi profesi u/ memperjuangkan ini..Seluruh komponen perawat bersatulah.” What can we do…

  • iin_ners says:

    mksh infox mz ery, sgt inspiratif u motivasi qt smua tuk mjd yg LEBIH BAIK.

    ijin share yaa, cz sy dpt sms bbrp tmn di tataran klinik ttg hal ini.

    ayo MAJU BERSAMA, DIMANA PUN NURSE mengabdikan diri!!!

  • iin_ners says:

    mksh infox mz ery…sgt inspiratif d motivatif u kmi smua, cz di tataran klinis hal keSETARAan mmg msh jd pe-er besar u qt.

    ijin share yaa…

    tetep smgt u qt smua, DIMANA PUN NERS MENGABDIKAN DIRI!!!

  • AD 17 YA says:

    Yah…memang susah berbicara ttg Profesi dengan orang yg Tidak Seprofesi.

    Kalau melihat kejadian itu, sepertinya kok ada sedikit permasalahan dalam penyampaian pendapat saja, sehingga terjadi mispersepsi antara keua belah pihak. (misalnya munculnya kata2 setara dengan Dokter…;). Kita lihat saja di Video itu, yang menghadapi anggota DPR yg terhormat itukan (kalau nggksalah)adalah mahasiswa2. Yang notabene secara diplomasi (dengan hormat, tanpa bermaksud mengecilkan kemampuan para mahasiswa tsb.maaf)tentunya akan jauh dg para anggota DPR tsb.

    Justru yg menjadipertanyaan Saya,kemana para petinggi Perawat(Pengurus Org.Profesi) saat itu….? Coba kalau yg berbicara mereka,mungkin pemahamannya akan beda.

  • indi oemari says:

    dokter ditanya.. ya bicaranya dari sudut pandang dokter… palagi anggota dewan yang (katanya) terhormat itu CUMA BISA BICARA… coba kita semua diam aja.. gak usah ngapa2in… setengah hari aja.. seluruh perawat di seluruh rumah sakit .. aksi diam…

  • TIE says:

    Huh..saya harus menghela napas panjang membacanya.
    Ketika kita (Perawat) mengajukan sesuatu kepada orang yang tidak tahu ilmunya (Anggota Dewan yang terhormat) maka hasilnya akan seperti ini. Long discussion without result.
    sebaiknya,Perawat tidak hanya bekerja di RS, akan lebih baik kalau ada dari sebagian kita (perawat) yang duduk di kursi dewan untuk memperjuangkan hak-hak kita sebagai perawat.

  • Army says:

    hayyyyh dari taon ke taon DPR koq yha kagak berubhah tho zaaaa. ibuuu anda kan seorang ibu, bicaranya yang anggun atuuh. semoga orang2 yang di atas lias perwakilan2 rakyat itu diberikan hidayah, hikmah rakyatnya itu juga butuh kejelasan atas segala sesuatu yg jadi jalanmulianya untuk masyarakat juga…

  • Saya pikir perawat harus mau dan mampu berpolitik, yang direalisasikan terjun langsung kepartai sebagai kendaraan untuk menuju Komisi IX DPR RI, sebab tanpa ada wakil perawat disana, sampai kiamat pun RUU Keperawatan hanyalah mimpi.

    Jika sejawat sudi berkunjung, silahkan baca tanggapan lengkap saya tentang fenomena yang beredar di youtube tersebut disini ( http://medianers.blogspot.com/2011/07/ruu-keperawatan-apa-kabar.html ). Maaf meninggalkan link, tdk bermaksud promosi.

    Wassallam.

  • shanty says:

    nah loh yang bicara adl mahasiswa, ya tentu masih dianggap sebelah mata.

    versi PPNI yang bicara dengan anggota DPR saya belum tau dan belum lihat.

    mungkin akan ada perbedaan.

    tetapi jauh dari semua itu … bagi saya seorang PERAWAT di puskesmas adalah pengabdian saya terhadap masyarakat sesuai dengan ilmu yang saya miliki.

    dan saya tetap selalu berusaha meningkatkan mutu secara SDM sehingga pelayanan yang saya berikan bisa optimal.

  • FAISOL S.KH says:

    hmmm…,,perawat,dokter,dokter hewan…di luar negri sangat setara derajatnya…!

  • FAISOL S.KH says:

    itu kah DPR kita….?

  • Hotma Rumahorbo says:

    Thanks ya ..sudah membagi info. Pertama-tama saya membaca dialognya, adrenalin saya memancar deras …ingin marah dan mencaci maki ibu anggota DPR yang cantik itu…. tapi kemudian saya sadar…bukankah sama bodohnyaa bila saya bersikap sama dengan dia..yang arogan…?? Harusnya kita membawa ke rumah, ke kantor dan ke dalam nurani kita masing-masing..air mata kesedihan dan sekaligus kebahagiaan bahwa KEPERAWATAN ternyata belum dianggap sebagai profesi yang dibutuhkan oleh masyarakat….tidak apa..pengakuan itu akan datang tepat pada waktunya,…tapi kapan..tunggu…karena kebaikan itu segara datang. Benahi diri…benahi keperawatan dari mulai yang ada di pustu sampai di pusat…benahi institusi pendidikan keperawatan, jangan seperti sekarang…siapa saja yang pede boleh buka STIKES..luluskan ners…yang kurang terstandard…., tentu masih banyak lagi kelemahan..yang kita bisa kenali di dalam daging kita sendiri…
    Semangat ..perawat Indonesia,…berubah dimulai dari diri sendiri….Love you so much ” NURSING”

  • Beta says:

    Setelah diskusi panjang lebar, mari kita buat aksi lagi. Jangan hanya NATO (No Action Talk Only)….
    Ayo… serbuuuu…

  • rakatsu says:

    Assalamualaikum

    abang2, kaka, senior2 ku diatas
    di mohon untuk join di grup ini di facebook

    Peduli Keperawatan dengan link : http://www.facebook.com/groups/166804556671073/

    dan
    MERDEKA RAKYAT DAN PERAWAT INDONESIA(MERAPI)
    http://www.facebook.com/groups/167049859991030/

    di sana, ada beberapa video terbaru tentang diskusi kami dengan para anggota DPRRI pada saat lawatan mereka ke Kalsel.

    kawan2 sudah menunggu di grup tersebut.

  • Sungguh sangat memprihatinkan anggota DPR di atas. Sama halnya seseorang yg mau membahas sebuah buku, tapi buku itu belum pernah dia baca. Tidak akan bisa maksimal, karena jadinya cuma sok tau. Begitulah anggota DPR di atas yg tidak mengerti tapi berani membahas. Miris.
    Perawat, sekolahlah yang tinggi dan berusaha untuk menjadi bagian dari pengambil kebijakan negara !! Sehingga profesi ini bisa lebih dihargai.

  • habibi says:

    saya pernah dapat sms tentang hal ini…. tp saya ksulitan mendapatkan data yang solid…sehingga banyak teman sejawat yang meragukannya…
    dan akhirnya saya mendapatkannya…. >:3

  • agat says:

    susah DPR mengartikan profesi kalo mereka ga tau apa itu profesi perawat….

  • windra Amd.kep says:

    itulah,,,yg jd anggota DPR, otaknya udh Expired, cb pemerintah menetapkan yg umur diatas 55 thun tdk boleh lg jd anggota DPR, mgkn ada wawasan membangun negara yg lebih baik…
    Mrka bicara seenak dengkurnya aja,,, padahal mereka kan pelayan kita juga,,,
    Mereka terlalu angkuh dan sombong akan gelarnya,,,,
    Percaya gak?? Klo tidak ada perawat, dokter itu tdk bisa apa2,,,,
    Tp perawat,,,,gk masalah tuch tanpa dokter…
    Sya 10thn di daerah sangat terpencil, 3 jam jln lwt hutan, dan 1 jam jln kaki,,,
    Dg pasien malaria,DBD, dll… Msh bisa di tangani,,,,
    Klo dokter kita suruh sendiri,,,, apakah mampu???
    Saya rasa, mrka tetap membutuhkan kita PERAWAT.
    Hidup Perawat,,,,,

  • Lim says:

    Apasih anda bisa di pelosok tanpa dokter? Anda g ngerti, anda jangan bunuh diri”

    Kalo anggota DPR rajin berkunjung keluar negeri,saya anggap wajar ia tdk tahu kondisi yg diwakilinya..
    ia tak tahu,,berapa banyak pulau terpencil yg tak punya tenaga kesehatan..saya rasa percuma berdebat dgn mereka..
    Harap tahu, bahwa sebagian anggota DPR yg katanya terhormat ( katanya sih ) itu sudah pikun,yang hanya bisa menghitung RP..
    nasib yg diwakili ? masa bodo..

  • emcho says:

    halah.. liat aja.. partai demokrat agan guling sebelum ! tahun.. hancur sudah mereka…

  • I seriously love your blog.. Very nice colors & theme. Did you build this amazing site yourself? Please reply back as I’m attempting to create my own personal site and would like to find out where you got this from or just what the theme is named. Cheers!

  • tanpa perawat sebenarnya dokter akan kewalahan menangani jumlah pasien yang ada di bangsal.
    jam kerja perawat dengan dokter pun sebenarnya lebih banyak perawat.
    dokter ada ketika visit sedangkan perawat ada setiap saat.
    baik itu pagi, siang ataupun malam.
    jadi saya mohon jangan pandang perawat sebelah mata saja.
    perawat tidak mengambil hak dokter hanya saja perawat ingin perlindungan hukum yang syah.

    coba bayangkan saja.
    umpama seluruh perawat yang ada di rumah sakit mogok kerja bagaimana?
    itu sebagai aksi keras dan kejam untuk segera disyahkannya UU Keperawatan.
    namun apakah tega perawat melakukan itu?

  • Untuk dapat berdiskusi dengan orang yang merasa status sosialnya lebih tinggi daripada orang lain terkadang kita perlu menghadirkan orang2 yang kedudukannya setaraf dengan mereka. Untuk memperjuangkan nasib Profesi ini kita membutuhkan orang2 kompeten dengan prfesi yang sama, dengan kata lain harus ada perawat yang duduk sebagai anggota dewan di DPR.Hmm…Sepertinya memang sudah saatnya perawat juga perlu berpolitik agar nasib RUU Keperawatan tidak menggantung seperti saat ini. #Miris

  • Casper Usbenned says:

    enaknya sebelum jadi dokter harus jadi perawat dulu..
    seperti anggota2 lain yang jabatannya bertahap…kenapa ini terbelah jadi dua padahal satu profesi yah?
    mf kurang ngerti…
    :)

  • Perlu diketahui oleh dpr, bahwasannya tenaga kesehatan itu banyak…dan semua profesi kesehatan yang ada bkn semata2 membantu dokter tp kita hadir untuk meningkatkan derajat kesehatan yg berkualitas, oleh karna itu semua prof.kes wajib memiliki payung hukum yg sah, "perawat hanya nurut2 gmn instruksi dokter itu pernyataan yg salah, prwat melakukan itu krna rasa prikemanusiaan, coba anda pikirkan, bagaimana jk prwt td prnah ada? apakh dokter akan melakukn injeksi sendiri dgn jmlh ps yg bgtu banyak? apakh dokter mau tinggal dipedalamn pelosok untuk masyarakat? sekrg yg membca tulisn ini trutama yg tggl di daerah plosok, apakah ada dokter dsna? ckpkh pelynan kes.masy dsna? perawat menuntut bkn untuk menyetarakan profesinya dgn profesi lain tetapi untuk meningkatkan kesehatan masy.jg melindungi drnya dr ranah uu..

  • KAYANYA UNTK MENDAPAT KESETARAAN SUSAH DI KRNKAN MELIPUT DARI ILMU KEPERAWATAN DAN KEDOKTERAN SANGATLAH BERBEDAH, DAN METODE PEMBELAJARANNYAPUN JAUH BERBEDAH, PROFESI KEPERAWATAN ANYA BUTUH PERLINDUNGAN HUKUM SESUAI DENGAN KITA KETAHUI HAK2 TIAP WARGA NEGARA HARUS DI LINDUNGI OLEH UUD DASAR, INTINYA PERAWAT CUMAN MAU UUD, AGAR INTRUKSI DAN PRAKTET DI TAU BATAS2 PEMBERIAN ILMU KEPERAWATAN, DI BIDANG, PENETAPAN DIAGNOSA , FARMAKOLOGI,,,! YG MASALAH SEKARANG KURANGNYA PEMAHAMAN PROFESI PERAWAT MENGENAI FARMAKOLOGI , JADI JUMLAH SKS FARMAKOLOGI HARUS DI TINGKATKAN LAGI'..

  • Epen Efri says:

    yang pertama harus disalahkan itu perawat (saya perawat juga), ndak kompak, coba mogok kerja sehari aja di seluruh indonesia di seluruh rumah sakit puskesmas, pasti bakalan tercengang tuh DPR, dan PPNI di daerah saya dak ada fungsinya, malah cendrung memberatkan dengan berbagai setoran, baik untuk SIK, SIP dll.

  • tidak ada kata tega, kalo hanya dengan cara itu hati dan pikiran mereka baru bisa terbuka apa boleh buat… iniu bukan masalah hati nurani perawat tapi hati nurani para penguasa yang hanya meliat sebelah mata dengan pola pikir yang cetek

  • jumlah dokterdi daerah pelosok sangat terbatas, di beberapa daerah, contohnya dikalimantan (karena saya berasal dari kalimantan) di suatu puskesmas hanya ada satu dokter sebagai kepala puskesmas atau hanya sebagai dokter penanggung jawab, tetapi sangat jarang berada di puskesmas, bisa sebulan sekali datang saja sudah alhamdulillah.. untuk menjalankan pelayanan perawatan maupun pengobatan sampai diagnosis penyakit semuanya perawat yang melakukan… itu baru di tingkat puskesmas,, beluml lagi di tingkat puskesmas pembantu (pustu), poskesdes… apakah mereka semua tahu kalau adanya nyawa yang harus dipertaruhkan,,, kalo payung hukum jelas, standar pelayanan profesi jelas,, hak dan kewajiban perawat jelas, tidak akan ada lagi keraguan dalam melakukan pelayanan.. selama ini perawat dihantui rasa takut, takut disalahkan, takut digugat karena wewenang dan tanggung jawabnya yang tidak sesuai.. tapi apakah hati nurani kita tidak tergugah melihat semua pasien yang datang,, apakah kita akan mengatakan.
    "pergi saja kejar dokternya".. atau "tunggu dokternya datang saja"… dimana moral kita sebagai yang memiliki pengetahuan untuk memperbaiki derajat kesehatan mereka… semua pasti mengatakan tidak mungkin, tapi itu faktanya…

Leave a Reply

[+] kaskus emoticons nartzco
Anda Pengunjung Ke
Berita via Email

Masukkan email anda disini:

Delivered by FeedBurner

Tentang Kami

Dunia keperawatan adalah dunia yang dinamis, tidak statis dan selalu berkembang. Perawat saat ini dituntut dapat menjawab segala tantangan global. Website ini hadir untuk memfasilitasi perawat untuk selalu belajar dan mengembangkan diri untuk keilmuan dan juga untuk membantu pembelajaran bagi semua.

Semoga website ini bermanfaat. HIDUP PERAWAT INDONESIA!!!

Mau YM-an sama Saya?
Kalender
July 2011
M T W T F S S
« Jun   Aug »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Harga Web Ini


My blog is worth $564.54.
How much is your blog worth?

Media Advertise Paling Murah

MP3 Gratis dan Usaha Gratis





Dapatkan uang dengan klik disini



Mau bisnis enak dan murah? Klik aja gambar dibawah

Radio Perawat Indonesia

Dengarkan via:

Jika anda ada request atau ingin memberikan masukan bisa menghubungi via email di ners.pintar@gmail.com

Cari Askep Anda Disini….
Plurk Saya
Statistik Pengunjung

free counters


Dapatkan uang secara online